WE Online, Jakarta – Pergerakan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) selama kuartal IV-2019 (Oktober-November-Desember) menunjukkan peningkatan yang signifikan. Selama periode I Desember 2019, terjadi kenaikan harga mencapai 7,8% dari US$705/MT menjadi US$760/MT.

Kabar baiknya, catatan harga CPO ini hampir menyamai rekor harga tertinggi pada 2016 lalu yang mencapai US$795/MT. Trader CPO memperkirakan bahwa supply minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia akan makin berkurang akibat tren trek yang sedang terjadi dan peningkatan mandatori biodiesel di kedua negara produsen tersebut sehingga “rebutan” menjadi upaya untuk mengisi stok yang banyak dilakukan oleh trader.

Data MPOB menunjukkan, produksi CPO di Malaysia pada November turun sebesar 16,5% dari 1,85 juta ton menjadi 1,53 juta ton dibandingkan bulan Oktober lalu. MPOB juga memprediksi penurunan produksi yang akan terjadi di Desember ini mencapai 10,4% dibandingkan Oktober.

Selain itu, menguatnya harga minyak kedelai (soybean oil/SBO) sebagai substituen minyak sawit diduga kuat ikut mendorong kenaikan harga CPO global. Data Investing mencatat kenaikan harga SBO hingga pertengahan Desember 2019 sebesar 4,4% dari 30,41 ct/Ib menjadi 31,76 ct/Ib.

Mengutip Agricencus, Co-founder Palm Oil Analytics, Sathia Varqa mengatakan perdagangan minyak kedelai di CBOT akan menghadapi ketidakpastian akibat perang dagang yang melibatkan AS-China yang belum usai. Varqa juga menambahkan, posisi harga CPO yang saat ini lebih tinggi dibandingkan harga SBO perlu diwaspadai mengingat buyer akan tetap cenderung berpaling kepada harga yang lebih murah yang ditawarkan supplyer.

 

Penulis: Redaksi WE Online
Editor: Puri Mei Setyaningrum
Foto: Antara/Irwansyah Putra
Sumber : wartaekonomi.co.id